Benarkah Al Ma’tsurat tidak boleh dibaca dan tidak layak diamalkan? Kami mendengar disebuah stasiun radio –yakni Roja- seorang ustadz mengatakan demikian. Jika memang ada yang dhaif bisakah disebutkan contohnya? (dari beberapa ikhwah di berbagai forum dan pertemuan)

Jawaban:

Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa ‘ala Aalihi wa Shahbihi wa Man waalah wa ba’d:

Al Ma’tsurat adalah kitab kecil berupa kumpulan doa yang disusun oleh Al Imam Hasan Al Banna Rahimahullah yang berisi doa-doa yang berasal dari Al Quran dan As Sunnah. Boleh dikatakan, dalam  era penerbitan modern, dibanding kitab sejenisnya, Al Ma’tsurat adalah kitab yang paling luas penyebarannya di dunia Islam  dan   paling banyak jumlah eksemplarnya dengan naik cetak berkali-kali.


               
Kitab ini, sebagaimana kitab-kitab lain secara umum, tentu tidaklah sempurna. Telah banyak pihak yang memberikan penjelasan, penelitian terhadap haditsnya, bahkan juga kritikan, hingga tahap celaan terhadapnya hingga ada yang mengatakan: tidak boleh dibaca, karena terdapat hadits yang dhaif dan palsu. Sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah Ta’ala, oleh karena itu mengharapkan selain diriNya adalah sempurna merupakan tindakan yang keliru dan menyalahi kodrat dan tabiat kehidupan. 
               
Jauh sebelum Al Ma’tsurat, sudah ada kitab-kitab sejenis yang di susun para ulama; seperti Al Adzkar karya Imam An Nawawi dan Kalimatuth Thayyibah karya Imam Ibnu Taimiyah. Kedua kitab inilah yang menjadi rujukan utama Al Ustadz Hasan Al Banna dalam menyusun Al Ma’tsurat sebagaimana dikatakan oleh Al ‘Allamah Asy Syaikh Yusuf Al Qaradhawi Hafizhahullah Ta’ala. Oleh karenanya, menjadi aneh ketika Al Ma’tsurat dicela karena adanya riwayat yang dhaif, namun sumber pengambilannya tidak dicela. Kami pun tidak ingin ada manusia yang lancang mencela Al Adzkar dan Kalimatuth Thayyibah, itu bukan keinginan kita bersama, ini hanya untuk menunjukkan bahwa kedengkianlah yang membuat mereka bersikap tidak adil terhadap Al Ustadz Hasan Al Banna dan Al Ma’tsurat. Jika mereka mau adil, sadar, jujur, mereka pun tidak akan temukan kitab-kitab kumpulan doa yang disusun ulama masa lalu yang tanpa hadits-hadits dhaif (bahkan kitab tafsir, nasihat, fiqih dan kumpulan hadits pun memuat riwayat yang dhaif).  Kritik dan nasihat tetaplah ada, tetapi demi ilmu, bukan untuk menjatuhkan kehormatan penulisnya dan memancing manusia untuk membencinya, serta membuang jauh karya-karyanya. Amat berbeda dengan pihak yang selalu mengkritik Al Ustadz Hasan Al Banna, dan apa-apa yang berasal darinya dan tentang dirinya. Allahul Musta’an!

Zaman ini, kumpulan doa yang disusun ulama masa kini, telah dibuat sebisa mungkin tanpa riwayat yang dhaif -walhamdulillah, seperti Hishnul Muslim yang disusun oleh ulama muda,  Asy Syaikh Said bin Ali Wahf Al Qahthani Hafizhahullah, juga kumpulan doa karya ulama lainnya, termasuk oleh penulis-penulis lokal. Demikianlah zaman telah berubah …

Dalam Al Ma’tsurat ini, sebenarnya Al Ustadz Hasan Al Banna Rahimahullah  memuat sangat banyak dan lengkap, tidak seperti yang beredar di masyarakat yang lebih dikenal dengan wazhifah sughra dan wazhifah kubra.

Di dalamnya beliau membuat lima pembahasan:

Qismul Awwal (bagian pertama), Al Ustadz Al Banna memberi judul Al Wazhiifah, yaitu berisi wirid pagi dan sore yang berasal dari Al Quran dan As Sunnah. Inilah yang umumnya beredar dan manusia mengenal dan  menyebutnya dengan Al Ma’tsurat. Dan, ini pula yang menjadi pembahasan kami dalam buku ini.

Qismuts Tsaani (bagian kedua), berjudul Al Wirdul Qur’aniy (wirid Al Quran), yaitu berisi wirid-wirid berasal dari ayat-ayat pilihan dari Al Quran.

Qismuts Tsaalits (bagian ketiga), berjudul Ad’iyah Al Yaum wal Lailah (doa-doa sehari-hari siang dan malam), seperti doa bangun tidur, doa berpakaian, dan lainnya.

Qismur Raabi’, (bagian keempat) berjudul Al Ad’iyah Al Ma’tsurah fi Haalat Mukhtalifah (doa-doa ma’tsur pada berbagai keadaan).

Bagian kelima, adalah Wirdul Ikhwan (wirid Al Ikhwan), yaitu wirid-wirid ma’tsur yang anjurkan untuk dibaca oleh para aktifis Al Ikhwan Al Muslimun. Di dalamnya terdapat doa rabithah, dia bukan doa ma’tsur melainkan susunan Al Ustadz Hasan Al Banna sendiri, maka jangan sampai ada yang terkecoh.

Semua inilah Al Ma’tsurat itu. Cukup banyak dan panjang, dalam kitab aslinya –khususnya penerbit Maktabah At Taufiqiyah- ada pada hal. 371 – 413, telah memakan 42 halaman dari kitab Majmu’ah Rasail.   Sedangkan Al Ma’tsurat yang biasa beredar dipasaran adalah  hanya pada qismul awwal  (bagian pertama) saja, yakni terdapat pada hal. 379-388 (hanya sembilan halaman, sudah mencakup wazhifah sughra dan kubra). Oleh karena itu menjadi sangat aneh jika hanya karena beberapa hadits yang dhaif pada qismul awwal (yakni bagian Al Wazhiifah), membuat bagian   lainnya menjadi hina dan tidak berharga, serta dibuang jauh dari hak umat, sebagaimana yang dikehendaki sebagian orang yang dengki kepada Al Ustadz Hasan Al Banna Rahimahullah.

Ada pun susunan yang beliau buat, tidak berarti itu suatu yang baku, dan beliau pun tidak pernah mengatakan demikian. Siapa saja boleh membacanya dengan urutan yang tidak sama dengan Al Ma’tsurat. Hal ini perlu kami tekankan, agar  tidak ada lagi tuduhan terhadap Al Ustadz Al Banna bahwa   beliau sengaja membuat urutan wirid tersendiri, yang dengan itu jatuhlah vonis bid’ah terhadapnya.

Sedangkan, tentang derajat hadits yang menganjurkan wirid Al Quran dan juga beberapa dzikir dari hadits pada Al Ma’tsurat, memang ada yang dhaif, munkar, bahkan maudhu’ (palsu). Walau ada juga yang kedhaifannya masih diperselisihkan para pakar hadits. Namun, jumlahnya tidak banyak dan ulama sebelum Al Ustadz Hasan Al Banna pun ada yang melakukannya, dan kita menilainya sebagai kekhilafan yang manusiawi. Sungguh berlebihan jika ada yang menganggap bahwa adanya hadits-hadits dhaif tersebut adalah kesengajaan yang dibuat oleh penulisnya dengan niat  buruk terhadap kemurnian agama. Haihaata haata …. (sungguh jauh sekali hal tersebut).

Ditambah lagi, sebagian besar ulama membolehkan menggunakan hadits dhaif untuk urusan fadha’ilul a’mal, dan urusan stimulus untuk membaca ini dan itu dari kalimat doa dan dzikir merupakan bagian dari fadha’ilul a’mal. Bahkan Imam An Nawawi mengklaim telah disepakati kebolehannya, dan kebolehan itu mesti dengan syarat-syarat. Ada pun yang benar adalah hal ini diperselisihkan, bukan kesepakatan. Hal ini telah kami bahas dalam tanya jawab di islamedia ini. Walau demikian,  menggunakan riwayat yang shahih adalah lebih utama dan lebih selamat untuk diamalkan.

Berikut ini adalah fatwa yang kami ambil dari Fatawa Asy Syabkah Al Islamiyah, fatwa No. 23832, 8 Sya’ban 1423H:

السؤال

ما حكم قراءة المأثورات للشهيد حسن البنا جماعة بصوت واحد أو فرادى؟ جزاكم الله خيراً.......

الفتوى

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أما بعد:

فلا بأس في قراءة كتاب المأثورات للشيخ حسن البنا وغيره من كتب الأذكار، وقد بينا ضوابط ذلك في الفتوى رقم: 8381 .

وفيها أن الذكر الجماعي بصوت واحد من البدع المحدثات.

والله أعلم.

المفتي: مركز الفتوى بإشراف د.عبدالله الفقيه

Pertanyaan:

Apa hukum membaca Al Ma’tsurat-nya Asy Syahid Hasan Al Banna secara berjamaah dengan satu suara atau satu persatu? Jazakumullah khairan …

Fatwa:

Alhamdulillah Ash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi, amma ba’d:

Tidak apa-apa membaca kitab Al Ma’tsurat-nya Syaikh Hasan Al Banna dan lainnya  yang termasuk  kitab-kitab dzikir. Dan, kami telah menjelaskan dhawabith (rambu-rambu)-nya pada fatwa no. 8381. Di dalamnya disebutkan bahwa dzikir jama’i dengan satu suara termasuk bid’ah.  Wallahu A’lam

Mufti: Markaz Fatwa (Pusat Fatwa), penanggung jawab: Dr. Abdullah Al Faqih

Wallahu A’lam

Beberapa Contoh Dzikir Dhaif dalam Al Ma’tsurat:

Sebagai amanah ilmiah, kami sampaikan beberapa contoh dzikir yang dhaif yang terdapat dalam Al Ma’tsurat.

1.    Membaca surat At Taubah ayat 129

حَسْبِيَ اللهُ لا إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ (سَبْعًا)

“Cukuplah  Allah bagiku, tiada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung.” (QS. At Taubah: 129) (dibaca tujuh kali)

                                                               * * *

Tentang anjuran membaca ayat ini sebanyak tujuh kali pada pagi dan sore tidak memiliki dasar yang shahih.

Imam Ibnus Sunni meriwayatkan dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah:

حدثني أحمد بن سليمان الجرمي حدثنا أحمد بن عبد الرزاق حدثني جدي عبد الرزاق بن مسلم الدمشقي عن مدرك بن سعد عن أبي الدرداء عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: (من قال في كل يوم حين يصبح وحين يمسي: حسبي الله لا إله إلا هو عليه توكلت وهو رب العرش العظيم سبع مرات، كفاه الله عز وجل ما أهمه من أمر الدنيا والآخرة)

Telah bercerita kepadaku Ahmad bin Sulaiman Al Jarami, bercerita kepada kami Ahmad bin ‘Abdurrazzaq, bercerita kepadaku kakekku ‘Abdurrazzaq bin Muslim Ad Dimasyqi dari Mudrik bin Sa’ad, dari Abu Ad Darda’ , dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahwa Beliau bersabda:

“Barangsiapa yang membaca pada setiap hari ketika pagi dan sore: (Hasbiyallah Laa Ilaha Illa huwa ‘alaihi tawakkaltu wa huwa Rabbul ‘Arsyil ‘Azhim) tujuh kali, maka Allah akan mencukupi apa yang diinginkan dari perkara dunia dan akhirat.”

Riwayat ini dhaif. Berkata Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr Hafizhahullah:

وهذا الإسناد المرفوع فيه هذا الرجل الضعيف الذي خالف الثقات وهو أحمد بن عبد الرزاق

“Isnad ini marfu’, terdapat seorang  dhaif yang menyelisihi orang-orang terpercaya, dia adalah Ahmad bin Abdurrazzaq.” (Syarh Sunan Abi Daud [577], Maktabah Misykah)  

Oleh karena itu, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini munkar. (As Silsilah Adh Dhaifah No. 5287). Hadits munkar adalah hadits yang diriwayatkan oleh orang yang dhaif dan berlawanan dengan orang yang tsiqat (terpercaya), sebagaimana dikatakan dalam Nuhbatul Fikar.

Imam Abu Daud juga meriwayatkan dalam Sunannya secara mauquf, sebagai ucapan sahabat Nabi, yaitu Abu Darda’ Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

من قال إذا أصبح وإذا أمسى: حسبي الله لا إله إلا هو عليه توكلت وهو رب العرش العظيم سبع مرات كفاه الله ما أهمه؛ صادقاً كان بها أو كاذباً

“Barangsiapa yang membaca ketika pagi dan sore: (Hasbiyallah Laa Ilaha Illa huwa ‘alaihi tawakkaltu wa huwa Rabbul ‘Arsyil ‘Azhim) tujuh kali, maka Allah akan mencukupi apa yang diinginkan, baik yang dia benarkan atau yang dia dustakan.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud No. 5081)

Namun Syaikh Al Albani telah meneliti riwayat ini sebagai  riwayat maudhu’ (palsu).  (Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 5081)

Imam Ibnu ‘Asakir juga meriwayatkan dalam Tarikh Dimasyqi, dalam biografi Abdurrazzaq bin Umar, sebagai berikut:

من رواية أبى زُرْعَة الدمشقي، عنه، عن أبي سعد مُدْرِك بن أبي سعد الفزاري، عن يونس بن ميسرة بن حليس، عن أم الدرداء، سمعت أبا الدرداء يقول: ما من عبد يقول: حسبي الله، لا إله إلا هو، عليه توكلت، وهو رب العرش العظيم، سبع مرات، صادقا كان بها أو كاذبا، إلا كفاه الله ما هَمَّه.

Dari riwayat Abu Zur’ah Ad Dimasyqi, darinya, dari Abu Sa’ad Mudrik bin Abi Sa’ad Al Fazari, dari Yunus bin Maysarah bin Halis, dari Ummu Ad Darda’, aku mendegar Abu Ad Darda’ berkata: Tidaklah seorang hamba berkata: (Hasbiyallah Laa Ilaha Illa huwa ‘alaihi tawakkaltu wa huwa Rabbul ‘Arsyil ‘Azhim) tujuh kali, baik yang dia benarkan atau yang dia dustakan, maka Allah akan mencukupi apa yang diinginkan.” (Tarikh Dimasyqi, 10/291)

Imam Ibnu Katsir mengatakan dalam tafsirnya terhadap surat At Taubah ayat 129, khususnya ketika membahas riwayat Ibnu ‘Asakir ini: “ini (hadits)  munkar.” (Tafsir Al Quran Al ’Azhim, 4/244. Darut Thayyibah)

Kesimpulan, maka anjuran berdzikir dengan membaca surat At Taubah ayat 129 sebanyak tujuh kali setiap pagi dan sore, adalah sangat lemah. Wallahu A’lam

2.       Membaca surat Al Isra’ ayat 110-111

قُلِ ادْعُواْ اللهَ أَوِ ادْعُواْ الرَّحْمَـنَ أَيًّا مَّا تَدْعُواْ فَلَهُ الأَسْمَاء الْحُسْنَى وَلاَ تَجْهَرْ بِصَلاَتِكَ وَلاَ تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلاً, وَقُلِ الْحَمْدُ للهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَم يَكُن لَّهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُن لَّهُ وَلِيٌّ مِّنَ الذُّلَّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا

“Katakanlah, ‘Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Al Asmaaul Husna (nama-nama yang terbaik) dan jangan kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.’ Dan katakanlah, ‘Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempuyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan tidak mempunyai penolong (untuk menjaga-Nya) dari kehinaan dan agungkanlah Dia dengan peng-agungan yang sebenar-benarnya’.” (QS. Al Isra’: 110-111)

                                                              * * *

Tentang bacaan ayat di atas,  Imam Abu Ya’la meriwayatkan sebagai berikut:

حدثنا بشر بن سيحان البصري، حدثنا حرب بن ميمون، حدثنا موسى ابن عبيدة الرَّبَذي، عن محمد بن كعب القُرَظي، عن أبي هريرة قال: خرجت أنا ورسول الله صلى الله عليه وسلم ويدي في يده، فأتى على رجل رث الهيئة، فقال: "أي فلان،  ما بلغ بك ما أرى؟". قال: السقم والضرّ يا رسول الله. قال: "ألا أعلمك كلمات تذهب عنك السقم والضر؟". قال: لا قال: ما يسرني بها   أن شهدت معك بدرًا أو أحدًا. قال: فضحك رسول الله صلى الله عليه وسلم وقال: "وهل يدرك أهل بدر وأهل أحد ما يدرك الفقير القانع؟". قال: فقال  أبو هريرة: يا رسول الله، إياي فعلمني قال: فقل يا أبا هريرة: "توكلت على  الحي الذي لا يموت، الحمد لله الذي لم يتخذ ولدًا، ولم يكن له شريك في الملك، ولم يكن له ولي من الذل، وكبره تكبيرًا". قال: فأتى عليّ رسول الله وقد حَسُنَت حالي، قال: فقال لي: "مَهْيم". قال: قلت: يا رسول الله، لم أزل  أقول الكلمات التي علمتني

Berkata kepada kami Bisyr bin Saihan Al Bashri, berkata kepada kami Harb bin Maimun, berkata kepada kami Musa bin ‘Ubaidah Az Zabadiy,  dari Muhammad bin Ka’ab Al Qurazhiy, dari Abu Hurairah, dia berkata: “Saya dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar, tangan saya di atas tangannya. Datanglah seorang laki-laki berpenampilan lusuh.” Beliau bersabda: “Hai fulan, apa yang membuatmu sampai seperti yang saya lihat?” Dia menjawab: “Penyakit dan keadaan sulit  ya Rasulullah.” Beliau bersabda: “Maukah kamu saya ajarkan ucapan yang dapat menghilangkan sakit dan kesulitanmu?.” Dia menjawab: “Tidak, itu tidaklah menggembirakanku sampai aku menjadi syahid bersamamu pada perang Badar dan Uhud.” Abu Hurairah berkata: “Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tertawa.” Lalu beliau bersabda: “Apakah kamu tahu Ahli Badar dan Ahli Uhud, tidakkah kamu tahu orang yang faqir dan qana’ah (merasa puas)?”  Lalu Abu Hurairah berkata: “Wahai Rasulullah, beritahu  aku juga.” Beliau bersabda: “Wahai Abu Hurairah, hendakya kau bertawakal kepada yang Maha Hidup yang tidak pernah mati,  dan Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempuyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan tidak mempunyai penolong (untuk menjaga-Nya) dari kehinaan dan agungkanlah Dia dengan peng-agungan yang sebenar-benarnya. (QS. Al Isra’ : 111)

Laki-laki itu berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendatangi saya dan keadaan saya sudah membaik.” Beliau bersaba: “Bagaimana keadaanmu?” Aku berkata: “Wahai Rasulullah aku senantiasa membaca kalimat yang kau ajarkan kepadaku.”  (HR. Abu Ya’la, 12/23)

Imam Ibnu Katsir mengatakan: “Sanadnya dhaif dan matannya munkar.” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 5/131)

Imam Nuruddin Al Haitsami mengatakan: “Dalam sanadnya terdapat Musa bin ‘Ubaidah Az Zabadiy, dia seorang yang dhaif.” (Majma’ Az Zawaid, 7/52)

Imam Ahmad mengatakan tentang Musa bin ‘Ubaidah Az Zabadiy: “Haditsnya jangan ditulis.” Imam An Nasa’i dan lainnya: “Dhaif.” Imam Ibnu ‘Adi mengatakan: “kedhaifan haditsnya jelas.” Imam Yahya bin Ma’in mengatakan: “Dia  bukan apa-apa.” Juga mengatakan: “haditsnya tidak bisa dijadikan hujjah.” Imam Yahya bin Sa’id mengatakan: “Kami takut/menjauhi haditsnya.” Imam Ibnu Sa’ad mengatakan: “Terpercaya, tapi tidak bisa dijadikan hujjah.” Ya’qub bin Syaibah mengatakan: “Jujur, tapi haditsnya sangat dhaif. ” (Al Hafizh Adz Dzahabi, Mizanul I’tidal, 4/213)

Maka, jelaslah kedhaifan riwayat ini.

Ada riwayat lain yang berbunyi:

من قرأ فى صبح أو مساء { قل ادعوا الله أو ادعوا الرحمن } [ الإسراء : 110 ] إلى آخر السورة لم يمت قلبه ذلك اليوم ولا فى تلك الليلة (الديلمى عن أبى موسى)

"Barang siapa yang membaca pada pagi dan petang (Qulid’uullaha awid’uurrahmaan) (QS. Al Isra: 110) hingga akhir surat, niscaya tidaklah akan mati hatinya pada hari itu dan tidak pula pada malam harinya.” (Ad Dailami dari Abu Musa). (Lihat Imam Alauddin Al Muttaqi Al Hindi dalam Kanzul ‘Ummal No. 2594, juga Imam As Suyuthi dalam Jami’ Al Ahadits No  23452, dan Jami’ Al Kabir No. 6185)

Para ulama menyebut hadits ini termasuk riwayat makdzuub –didustakan/palsu. (Lihat Syaikh Hisamuddin bin Musa ‘Afanah, Fatawa Yas’alunaka, 7/210), Syaikh Abdullah Al Faqih menyebutnya termasuk hadits yang diperkirakan dhaif dan palsu.  (Lihat juga Syaikh Dr. Abdullah Al Faqih, Fatawa Asy Syabkah Al Islamiyah, No. 61592)  Wallahu A’lam

3.       Membaca surat  Al Mu’minun ayat 115-118

أَفَحَـــسِبْتُمْ أَنّــَــــمَا خَـــــــــلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَــــــــيْنَا لا تُــــــرْجَعُونَ, فَتـَـعَالَى اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لا إِلَهَ إِلا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ, وَمَن يَـــدْعُ مَعَ اللهِ إِلَهًا آخَرَ لا بُــــــــــرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِـــــسَابُهُ عِــــــندَ رَبِّـــــــهِ  إِنَّـــــــهُ  لا  يُفْلِــــــــحُ  الْـــكَافِرُونَ, وَقُل رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ

“Maka Apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami? Maka Maha Tinggi Allah, raja yang sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) 'Arsy yang mulia. dan Barangsiapa menyembah Tuhan yang lain di samping Allah, Padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, Maka Sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung. dan Katakanlah: "Ya Tuhanku berilah ampun dan berilah rahmat, dan Engkau adalah pemberi rahmat yang paling baik." (QS. Al Mu’minun: 115-118)

                                                                                   * * *

Tentang anjuran membaca ayat ini, diriwayatkan oleh Imam Abu Nu’aim Rahimahullah sebagai berikut:

حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ الْغِطْرِيفِيُّ، ثنا زَكَرِيَّا السَّاجِيُّ، ثنا يَزِيدُ بْنُ يُوسُفَ بْنِ عَمْرو، ثنا خَالِدُ بْنُ نِزَارٍ، ثنا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: " وَجَّهَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَرِيَّةٍ،  فَأَمَرَنَا أَنْ نَقُولَ إِذَا نَحْنُ أَمْسَيْنَا وَأَصْبَحْنَا: { أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا } [المؤمنون: 115] فَقَرَأْنَاهَا فَغَنِمْنَا وَسَلِمْنَا "

Telah bercerita kepada kami Abu Ahmad Al Ghithrifi, bercerita kepada kami Zakaria As Saaji, bercerita kepada kami Yazid bin Yusuf bin Amru, bercerita kepada kami Khalid bin Nizar, telah bercerita kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah, dari Muhammad bin Al Munkadir, dari Muhammad bin Ibrahim At Taimi, dari ayahnya, dia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengirim kami dalam sebuah ekspedisi, kemudian beliau memerintahkan agar kami membaca, afahasibtum annama khalaqnakum….. dan ayat-ayat berikutnya, di waktu sore dan pagi. Kami pun membacanya, maka kami berhasil memperoleh keselamatan dan rampasan perang.” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Ma’rifatush Shahabah, No. 726, juga Ibnus Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah, 27-28/75)

Hadits ini dhaif. Imam Adz Dzahabi menyebutkan,  Yazid bin Yusuf bin Amru adalah majhul (tidak diketahui keadaanya). Jika dia adalah Yazid bin Yusuf Al Mishri maka dia juga majhul. Jika dia adalah Yazid bin Yusuf Ash Shan’ani, kawan Al Auza’i, maka juga dhaif. Imam Abu Hatim mengatakan: lam yakun bi qawwi (tidak kuat). Imam Yahya bin Ma’in mengatakan:  Laisa bi tsiqah, qad ra’aytuhu (bukan orang terpercaya,   saya pernah melihatnya). Imam An Nasa’i mengatakan: matruk (haditsnya ditinggalkan). Shalih Jazarah mengatakan: mereka (para ulama) meninggalkan haditsnya. (Mizanul I’tidal,  4/442)

Khalid bin Nizar juga demikian, Syaikh Al Albani telah menyebutkan kelemahannya yang ringan, selain Yazid bin Yusuf bin Amru yang tidak ditemukan biografinya.  Maka, beliau pun mendhaifkan hadits ini. (As Silsilah Adh Dhaifah No. 4274)

4.       Membaca surat Ar Ruum ayat 17-26

فَسُبْحَانَ اللهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ, وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ, يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَيُحْيِي الأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَكَذَلِكَ تُخْرَجُونَ, وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ إِذَا أَنتُم بَشَرٌ تَنتَشِرُونَ, وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَـــــــيْهَا وَجَعَلَ بَيْــــنَكُم مَّـــوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ  لِّـــــقَوْمٍ  يَــــتَفَــــكَّرُونَ, وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفُ أَلْسِنَتِكُمْ وَأَلْوَانِكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِّلْعَالِمِينَ , وَمِنْ آيَاتِهِ مَنَامُكُم بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَابْتِغَاؤُكُم مِّن فَضْلِهِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَسْمَعُونَ , وَمِنْ آيَاتِهِ يُرِيكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَطَمَعًا وَيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَاء مَاء فَيُحْيِي بِهِ الأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ , ‏وَمِنْ آيَاتِهِ أَن تَقُومَ السَّمَاء وَالأَرْضُ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِذَا دَعَاكُمْ دَعْوَةً مِّنَ الأَرْضِ إِذَا أَنتُمْ تَخْرُجُونَ , وَلَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ كُلٌّ لَّهُ قَانِتُونَ

“Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh, dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu Zuhur. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan menghidupkan bumi sesudah matinya. dan seperti Itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur). dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu (menjadi) manusia yang berkembang biak. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia memperlihatkan kepadamu kilat untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya. dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya. kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur). dan kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. semuanya hanya kepada-Nya tunduk. (QS. Ar Ruum: 17-26)

                                                                             * * *

Ada beberapa riwayat yang menyebutkan agar membaca ayat ini dibaca setiap pagi dan sore, namun tidak satu pun yang shahih.

Imam Ahmad dalam Musnadnya merwayatkan sebagai berikut:

حَدَّثَنَا حَسَنٌ، حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ، حَدَّثَنَا زَبَّانُ بْنُ فَائِدٍ، عَنْ سَهْلٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: " أَلَا أُخْبِرُكُمْ لِمَ سَمَّى اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِبْرَاهِيمَ خَلِيلَهُ الَّذِي وَفَّى ؟ لِأَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: كُلَّمَا أَصْبَحَ، وَأَمْسَى: {فَسُبْحَانَ اللهِ حِينَ تُمْسُونَ، وَحِينَ تُصْبِحُونَ} [الروم: 17] حَتَّى يَخْتِمَ الْآيَةَ "

Telah bercerita kepada kami Hasan, telah bercerita kepada kami Ibnu Luhai’ah, bercerita kepada kami Zabban bin Faaid, dari Sahl, dari ayahnya, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahwa beliau bersabda: “Maukah saya kabarkan kenapa Allah Tabaraka wa Ta’ala menamakan Ibrahim sebagai kekasihNya yang menepati janji? Karena dia membaca ketika pagi dan sore: Fasubhanallahi hiina tumsuuna wa hiina tushbihuun (QS. Ar Ruum: 17), sampai penutup ayat.” (HR. Ahmad No. 15624, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 16826, Ibnu Jarir Ath Thabari dalam Tafsirnya, 22/545)

Hadits ini dhaif, lantaran kedhaifan Ibnu Luhai’ah dan Zabban bin Faaid.

Kelemahan Ibnu Luhai’ah sangat terkenal dikalangan muhadditsin, khususnya ketika buku-bukunya terbakar sehingga hapalannya kacau, dan dahulunya dia seorang tsiqah bil kutub (terpercaya dengan buku-bukunya). Oleh karenanya, para ulama meninggalkan hadits-haditsnya ketika pasca terbakar buku-bukunya yang membuat kacau hapalannya.  Namun demikian, para ulama tetap mengambil hadits darinya jika hadits  beliau  diriwayatkan dari empat orang bernama Abdullah, sebab mereka mendengarnya ketika hapalannya masih bagus.

Imam Ibnu Hibban bercerita –sebagaimana dikutip Imam Adz Dzahabi:

وكان صالحا، لكنه يدلس عن الضعفاء، ثم احترقت كتبه، وكان أصحابنا يقولون: سماع من سمع منه قبل احتراق كتبه مثل العبادلة: عبدالله بن وهب، وابن المبارك، وعبد الله بن يزيد المقرئ، وعبد الله بن مسلمة القعنبى - فسماعهم صحيح.

 “Dia adalah orang shalih, tetapi dia melakukan tadlis (manipulasi/penggelapan) dari orang-orang dhaif, kemudian buku-bukunya terbakar. Kawan-kawan kami mengatakan: “Boleh  saja mendengar dari orang yang mendengarkan hadits darinya sebelum terbakar buku-bukunya dari para ‘abadilah , yaitu: Abdullah bin Wahb, Abdullah bin Al Mubarak, Abdullah bin Yazid Al Muqri, dan Abdullah bin Maslamah Al Qa’nabi, maka mendengarkan dari mereka adalah shahih.” (Mizanul I’tidal, 2/482)

Dan, hadits di atas tidaklah diriwayatkan oleh empat Abdullah darinya. Maka, jelas kelemahan hadits ini.

Ditambah lagi, adanya Zabban bin Faaid, seorang yang didhaifkan oleh jamaah ahli hadits, hanya Abu Hatim yang mentsiqahkannya. (Lihat Imam Al Haitsami, Majma’ Az Zawaid, 5/284)

Al Hafizh Ibnu Hajar menyebutkan bahwa Imam Ahmad mengatakan hadits-hadits Zabban adalah munkar. Imam Yahya bin Ma’in mengatakan sebagai syaikh yang dhaif. Sedangkan Imam Abu Hatim mengatakan shalihul hadits (haditsnya baik). (Tahdzibut Tahdzib, 3/08)

Syaikh Syu’aih Al Arnauth mengomentari hadits ini: isnaaduhu dhaif- isnadnya dhaif.  (Lihat Tahqiq Musnad Ahmad, 24/388)

Selain itu, ada riwayat lain tentang anjuran membaca surat Ar Ruum ayat 17, sebagai berikut:

حَدَّثَنَا مُطَّلِبُ بن شُعَيْبٍ الأَزْدِيُّ , حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بن صَالِحٍ , حَدَّثَنِي اللَّيْثُ بن سَعْدِ , عَنْ سَعِيدِ بن بَشِيرٍ , عَنْ مُحَمَّدِ بن عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْبَيْلَمَانِيِّ , عَنْ أَبِيهِ , عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بن عَبَّاسٍ , عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , قَالَ:مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ: "فسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَعَشِيًّا وَحِينَ تُظْهِرُونَ"[الروم آية 17] الآيَةَ كُلَّهَا أَدْرَكَ مَا فَاتَهُ فِي يَوْمِهِ , وَمَنْ قَالَهَا حِينَ يُمْسِي أَدْرَكَ مَا فَاتَهُ لَيْلَتَهُ.

Bercerita kepada kami Syu’aib Al Azdi, bercerita kepada kami Abdullah bin Shalih, bercerita kepadaku Al Laits bin Sa’ad, dari Sa’id bin Basyir, dari Muhammad bin Abdurrahman Al Bailamani, dari ayahnya, dari Abdullah bin Abbas, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:

“Barangsiapa yang membaca saat pagi: Fasubhanallahi hiina tumsuuna wa hiina tushbihuun … dst (QS. Ar Ruum: 17) sampai semuanya, maka dia akan menemukan apa-apa yang luput darinya pada siangnya, dan yang membacanya ketka sore maka dia akan menemukan apa-apa yang luput darinya pada malam harinya.” (HR. Abu Daud No. 5076. Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 12815)

Riwayat ini juga dhaif jiddan (sangat lemah).  Lantaran beberapa rawinya yang dhaif.

Sa’id bin Basyir, dia didhaifkan para imam. Imam Al Bukhari memasukkanya dalam kitabnya Adh Dhu’afa (orang-orang lemah), dan mengatakan: haditsnya tidak shahih. Abu Hatim mengatakan bahwa Sa’id bin Basyir adalah guru dari Al Laits bin Sa’ad, tetapi tidak terkenal. Ibnu Hibban mengatakan: laisa bi syai’ (bukan apa-apa). Al Uqaili mengatakan: majhul (tidak dikenal). (Al Hafizh Ibnu Hajar, Tahdzibut Tahdzib, 4/11)

Muhammad bin Abdurrahman Al Bailamani, dia juga didhaifkan para imam. Imam Al Bukhari dan Imam Abu Hatim mengatakan: munkarul hadits (haditsnya munkar). Imam Ad Daruquthni dan lainnya mengatakan: dhaif. Imam Ibnu Hibban mengatakan: “Dia meriwayatkan hadits dari ayahnya (Abdurrahman Al Bailamani) salinan naskah yang samar, sejumlah dua ratus hadits yang semuanya palsu.” Imam Ibnu ‘Adi mengatakan: “Semua hal yang diriwayatkan Ibnu Al Bailamani terdapat bala’ (musibah) yang berasal darinya.” (Al Hafizh Adz Dzahabi, Mizanul I’tidal, 3/618-619)

Ada pun Abdurrahman Al Bailamani -ayah dari Muhammad bin Abdurrahman Al Bailamani- juga seorang yang didhaifkan oleh mayoritas ulama. Imam Abu Hatim mengatakan dhaif, Imam Ad Daruquthni mengatakan dhaif, dan tidak kuat dijadikan hujjah. (Ibid, 2/551)

Oleh karenanya Syaikh Al Albani menyatakan hadits ini; dhaif jiddan (sangat lemah). (Lihat Dhaiful Jami’ No. 5733)

5.        Membaca surat  Ghafir (Al Mu’min)  ayat 1-3

  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ, حم, تَنزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ, غَافِرِ الذَّنبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ

“Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. “Ha Mim. Diturunkan Kitab ini (Al-Qur'an) dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui, Yang mengampuni dosa dan menerima taubat lagi keras hukuman-Nya; Yang mempunyai karunia. Tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepada-Nyalah kembali (semua makhluk).” (QS. Al Mukmin: 1-3)

                                                                                 * * *

Tentang keutamaan membaca ayat di atas, Imam At Tirmidzi meriwayatkan:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ الْمُغِيرَةِ أَبُو سَلَمَةَ الْمَخْزُومِيُّ الْمَدَنِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ الْمُلَيْكِيِّ عَنْ زُرَارَةَ بْنِ مُصْعَبٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَرَأَ حم الْمُؤْمِنَ إِلَى{ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ } وَآيَةَ الْكُرْسِيِّ حِينَ يُصْبِحُ حُفِظَ بِهِمَا حَتَّى يُمْسِيَ وَمَنْ قَرَأَهُمَا حِينَ يُمْسِي حُفِظَ بِهِمَا حَتَّى يُصْبِحَ

Bercerita kepada kami Yahya bin Al Mughirah Abu Salamah Al Makhzumi Al Madani, bercerita kepada kami Ibnu Abi Fudaik, dari Abdurrahman bin Abi Bakr Al Mulaiki, dari Zurarah bin Mush’ab, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dia berkata: bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

“Barangsiapa yang membaca Hammiim dalam surat Al Mu’min, sampai Ilaihil Mashiir dan ayat Kursi ketika pagi, maka dia akan dijaga oleh keduanya sampai sore. Barang siapa yang membacanya ketika sore dia akan dijaga oleh keduanya sampai pagi.” (HR. At Tirmidzi No. 2879, katanya: gharib. Ad Darimi No. 3449)

Imam At Tirmidzi mengisyaratkan kedhaifan hadits ini, lantaran ada perawi yang dhaif. Beliau berkata:

وَقَدْ تَكَلَّمَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ الْمُلَيْكِيِّ مِنْ قِبَلِ حِفْظِهِ وَزُرَارَةُ بْنُ مُصْعَبٍ هُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَهُوَ جَدُّ أَبِي مُصْعَبٍ الْمَدَنِيِّ

“Sebagian ulama membincangkan Abdurrahman bin Abu Bakr bin Abu Mulaikah Al Mulaiki dari sisi hapalannya, dan Zurarah bin Mush’ab, dia adalah Ibnu Abdirrahman bin ‘Auf, dia adalah kakak dari Abu Mush’ab Al Madani.” (Sunan At Tirmidzi No. 2879)

Abdurrahman bin Abu Bakr Al Mulaiki telah didhaifkan para imam. Imam Bukhari mengatakan: dzaahibul hadits (haditsnya terhapus). Imam Yahya bin Ma’in mengatakan: dhaif. Imam Ahmad mengatakan: munkarul hadits (haditsnya munkar). Imam An Nasa’i mengatakan: matruk (haditsnya ditinggalkan). (Mizanul I’tidal, 2/550)

Sementara Syaikh Al Albani mendhaifkan hadits ini. (Dhaiful Jami’ No. 5769)

6.       Membaca surat Al Hasyr ayat  22-24

هُــــوَ اللهُ الَّذِي لا إِلَهَ إِلا هُـــوَ عَـــــالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّــــــهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ, هُــــوَ اللهُ الَّذِي لا إِلَهَ إِلا هُــــوَ الْمَلِكُ الْقُــــــدُّوسُ السَّـــــلامُ الْمُؤْمِنُ الْمُـــهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ, هُوَ اللهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الأَسْمَاء الْحُــــسْنَى يُــــسَبِّحُ لَهُ مَـــا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Dia-lah Allah Yang tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Pe-nyayang. Dia-lah Allah Yang tiada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki Segala Keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih KepadaNya   apa   yang  ada  di langit dan di bumi.Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Hasyr: 22-24)

                                                                   * * *

Tentang anjuran membaca beberapa ayat terakhir surat Al Hasyr, diriwayatkan oleh Imam Al Baihaqi sebagai berikut:

أخبرنا أبو سعد الماليني ، حدثنا أبو أحمد بن عدي الحافظ ، حدثنا أبو عبد الرحمن النسائي ، أخبرني عبد الله بن عبد الرحمن السمرقندي ، حدثنا سليم بن عثمان الفوزي ، حدثنا محمد بن زياد الألهاني ، حدثنا أبو أمامة الباهلي ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « من قرأ خواتيم الحشر في ليلة أو نهار فمات من يومه أو ليلته فقد أوجب الجنة » « تفرد به سليم بن عثمان هذا ، عن محمد بن زياد »

Mengabarkan kepada kami Abu Sa’ad Al Malini, bercerita kepada kami Abu Ahmad bin ‘Adi Al Hafizh, bercerita kepada kami Abu Abdurrahman An Nasa’i, mengabarkan kepada kami Abdullah bin Abdurrahman As Samarqandi, bercerita kepada kami Salim bin ‘Utsman Al Fauzi, bercerita kepada kami Muhammad bin Ziyad Al Alhani, bercerita kepada kami Abu Umamah Al Bahili, katanya: Bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

“Barang siapa yang membaca beberapa ayat penutup surat Al Hasyr pada malam hari atau siang, lalu dia mati pada siang atau malamnya, maka dia pasti masuk surga.” Salim bin ‘Utsman telah menyendiri dalam meriwayatkannya, dari Muhammad bin Ziyad. (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman No. 2399)

Hadits ini dhaif jiddan. Salim bin ‘Utsman adalah perawi yang tidak bisa dipercaya. Imam Adz Dzahabi mengatakan bahwa dia: laisa bi tsiqah (bukan orang yang bisa dipercaya). Abu Zur’ah mengingkari haditsnya dan mengatakan bahwa hadits darinya tidak menyerupai hadits orang-orang terpercaya. Bahkan, Imam Abu Zur’ah   mengatakan hadits ini termasuk yang setara dengan hadits palsu.” (Mizanul I’tidal, 2/230-231)

Sementara Imam Adz Dzahabi menyebutkan dalam Al Mughni bahwa Salim bin Utsman adalah seorang yang tertuduh sebagai pembohong dan juga lemah. Ditambah lagi beliau meriwayatkan hadits ini secara sendiri. Maka, wajar jika Syaikh Al Albani mengatakan dhaif jiddan. (As Silsilah Adh Dhaifah No. 4631)

7.        Membaca surat Al Zalzalah ayat 1-8

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ , إِذَا زُلْزِلَتِ الأَرْضُ زِلْزَالَهَا, وَأَخْرَجَتِ الأَرْضُ أَثْقَالَهَا , وَقَالَ الإِنسَانُ مَا لَهَا, يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا, بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا, يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِّيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ, فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ, وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Dengan menyebut asma Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. “Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya, ‘Mengapa bumi (jadi begini)?’ Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) kapadanya. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar dzarrah pun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al Zalzalah: 1-8)

                                                                                           * * *

Riwayat tentang keutamaan surat Al Zalzalah adalah sebagai berikut:

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ أَخْبَرَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا يَمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ الْعَنَزِيُّ حَدَّثَنَا عَطَاءٌ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا زُلْزِلَتْ تَعْدِلُ نِصْفَ الْقُرْآنِ وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ وَقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ تَعْدِلُ رُبُعَ الْقُرْآنِ

Telah bercerita kepada kami Ali bin Hujr, mengabarkan kepada kami Yazid bin Harun, mengabarkan kepada kami Yaman bin Al Mughirah Al ‘Anzi, telah mengabarkan kami ‘Atha dari Ibnu Abbas, katanya: bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

“Idza Zulzilat setara dengan setengah Al Quran, dan Qul Huwallahu Ahad setara dengan sepertiga Al Quran, dan Qul yaa ayyuhal kaafirun setara dengan seperempat Al Quran.” (HR. At Tirmidzi No. 2894, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 2078, katanya: sanadnya shahih)

Syaikh Al Albani menyatakan ini adalah hadits munkar. (As Silsilah Adh Dhaifah No. 1342), karena hadits ini bertentangan dengan riwayat lain yang lebih tsiqah.

Sedangkan Imam At Tirmidzi sendiri mengisyaratkan kedhaifan hadits ini, katanya: “Hadits gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari hadits Yaman bin Al Mughirah.”  (Sunan At Tirmidzi No. 2894)

Sedangkan penshahihan Imam Al Hakim telah dikoreksi oleh Imam Adz Dzahabi, dengan mengatakan: “Bahkan mereka telah mendhaifkan Yaman.”

Imam Al Bukhari mengomentari Yaman: munkarul hadits (haditsnya munkar). Yahya mengatakan: dia bukan apa-apa. Imam An Nasa’i mengatakan: tidak bisa dipercaya. Imam Ad Daruquthni dan Imam Abu Zur’ah mengatakan: dhaif.  Imam Ibnu ‘Adi mengatakan: menurut saya tidak apa-apa. (Mizanul I’tidal, 4/461)

Syaikh Abul ‘Ala Al Mubarkafuri, mengutip dari Imam Al Munawi,  katanya:

هَذَا حَدِيثٌ مُنْكَرٌ وَتَصْحِيحُ الْحَاكِمِ مَرْدُودٌ اِنْتَهَى

“Hadits ini munkar dan penshahihan Al Hakim adalah tertolak. Selesai.” (Tuhfah Al Ahwadzi, 8/206)

Selanjutnya, Syaikh Al Mubarkafuri mengutip dari Al Hafizh Ibnu Hajar:

قال البخاري وأبو حاتم: وهو منكر الحديث يروي المناكير التي لا أصول لها فاستحق الترك كذا في تهذيب التهذيب

Al Bukhari dan Abu Hatim berkata: Dia (Yaman) adalah munkarul hadits,   meriwayatkan hadits-hadits munkar yang tidak memiliki dasar, maka dia berhak ditinggalkan. Demikian dalam Tahdzibut Tahdzib. (Ibid)

Dengan demikian hadits ini tidak bisa dijadikan hujjah, karena kelemahannya. Ada pun yang shahih adalah Qul huwallahu ahad adalah sepertiganya Al Quran, sebab itu diriwayatkan dalam Shahihain (Bukhari-Muslim).

Dan, hadits ini pun tidak ada anjuran untuk membaca Al Zalzalah pada pagi dan sore. Wallahu A’lam

8.       Membaca surat Al Kafirun ayat 1-6

بِـــــســْمِ اللهِ الرَّحْــــمنِ الرَّحِـــيْمِ, قُــــــلْ يَــــا أَيُّــــــهَا الْــــكَافِـــــرُونَ, لا أَعْـــــــــبُدُ مَا تَعْبُدُونَ, وَلا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْـــــبُدُ, وَلا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ, وَلا أَنــتـــُمْ عَـــابِدُونَ مَا أَعْبُدُ, لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

“Dengan menyebut asma Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. “Katakanlah, ‘Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kalian sembah. Dan kalian bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak akan menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untuk kalian agama kalian dan untukku agamaku.’” (QS. Al Kafirun: 1-6)

                                                                            * * *

Keutamaan surat Al Kafirun sudah disebutkan dalam hadits sebelumnya, yang diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi dan Imam Al Hakim di atas, namun termasuk hadits munkar.

Dalam riwayat lain juga ada yang menyebutkan keutaman surat Al Kafirun, yaitu:

حَدَّثَنَا عُقْبَةُ بْنُ مُكْرَمٍ الْعَمِّيُّ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ أَخْبَرَنَا سَلَمَةُ بْنُ وَرْدَانَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِرَجُلٍ مِنْ أَصْحَابِهِ هَلْ تَزَوَّجْتَ يَا فُلَانُ قَالَ لَا وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا عِنْدِي مَا أَتَزَوَّجُ بِهِ قَالَ أَلَيْسَ مَعَكَ قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ قَالَ بَلَى قَالَ ثُلُثُ الْقُرْآنِ قَالَ أَلَيْسَ مَعَكَ إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ قَالَ بَلَى قَالَ رُبُعُ الْقُرْآنِ قَالَ أَلَيْسَ مَعَكَ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ قَالَ بَلَى قَالَ رُبُعُ الْقُرْآنِ قَالَ أَلَيْسَ مَعَكَ إِذَا زُلْزِلَتْ الْأَرْضُ قَالَ بَلَى قَالَ رُبُعُ الْقُرْآنِ قَالَ تَزَوَّجْ

Bercerita kepada kami ‘Uqbah bin Mukram Al ‘Ammi Al Bashri, bercerita kepada saya Abu Fudaik, mengabarkan kami Salamah bin Wardan, dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada seorang laki-laki dari sahabatnya: “Wahai fulan, apakah kau sudah menikah?” Dia menjawab: “Belum, demi Allah ya rasulullah, saya tidak punya sesuatu yang saya gunakan buat menikah.” Nabi bersabda: “Bukankah kau memiliki Qul huwallahu Ahad?” Dia menjawab: “tentu.” Nabi bersabda: “(Dia) Sepertiga Al Quran.” Dan bersabada lagi: “Bukankah kau memiliki Idza Ja’a Nashrullahi wal Fath?” Dia menjawab: “tentu.” Beliau bersabda: “Seperempat Al Quran.” Nabi bersabda lagi: “Bukankah kau memiliki Qul Yaa Ayyuhal Kaafirun?” dia menjawab: ”tentu.” Nabi bersabda: “(dia) seperempat Al Quran.” Nabi bertanya: “Bukankah kau memiliki Zulzilat Al Ardh?” Dia menjawab: “tentu.” Nabi bersabda: “Dia seperampat Al Quran, menikahlah!” (HR. At Tirmidzi No. 2895, katanya: hasan)

Penghasanan Imam At Tirmidzi terhadap hadits ini telah dikritik oleh Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani, sebagai berikut:

وَهُوَ حَدِيثٌ ضَعِيفٌ لِضَعْفِ سَلَمَةَ بْنِ وَرْدَانَ وَإِنْ حَسَّنَهُ التِّرْمِذِيُّ فَلَعَلَّهُ تَسَاهَلَ فِيهِ لِكَوْنِهِ مِنْ فَضَائِلِ الْأَعْمَالِ اِنْتَهَى .

“Ini adalah hadits dhaif karena kelemahan Salamah bin Wardan, sesungguhnya At Tirmidzi menghasankannya karena dia adalah termasuk yang mempermudah/memperlonggar dalam hal ini, karena ini termasuk masalah fadhailul a’mal. Selesai.” (Sebagaimana dikutip dalam Tuhfah Al Ahwadzi, 8/205)

Imam Abu Hatim mengomentari Salamah bin Wardan, katanya: “Bukan orang kuat, umumnya   riwayat Anas yang ada padanya adalah munkar.” Dan hadits ini beliau riwayatkan dari Anas.  Imam Abu Daud mengatakan:”Dhaif.” Imam Yahya bin Ma’in mengatakan: “Dia bukan apa-apa.” Imam Ahmad mengatakan: “Munkatul hadits (haditsnya munkar).” Imam Al Hakim mengatakan: “Riwayatnya yang dari Anas kebanyakan adalah munkar.” (Mizanul I’tidal, 2/193)

Maka, pandangan yang lebih kuat adalah hadits ini dhaif, bukan hasan. Syaikh Al Albani juga mendhaifkan hadits ini. (Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 2894)

Namun, ada hadits shahih   yang menyebutkan keutamaan surat Al Kafirun yaitu sunah membacanya ketka shalat sunah fajar dan ba’diyah maghrib.  Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ فِي رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membaca pada dua rakaat shalat sunah fajar: Qul yaa ayyuhal kaafiruun dan Qul huwallahu ahad.” (HR. Muslim No. Abu Daud No. 1256, Ibnu Majah No. 1148, An Nasa’i No. 945)

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

"قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ"[الإخلاص آية 1] تَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ , وَ "قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ"[الكافرون آية 1] تَعْدِلُ رُبْعَ الْقُرْآنِ , وَكَانَ يَقْرَأُ بِهِمَا فِي رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ

“Qul huwallahu ahad setara dengan sepertiga Al Quran, dan Qul yaa ayyuhal kafiruun setara dengan seperemat Al Quran.” Beliau membaca keduanya dalam dua rakaat shalat sunah fajar. (HR. Ath Thabarani dalam Al Kabir No. 13311. Syaikh Al Albani mengatakan shahih lighairihi. Lihat Shahih At Targhib wat Tarhib, No. 583)

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

أن النبي صلى الله عليه و سلم كان يقرأ في الركعتين بعد صلاة المغرب {قل يا أيها الكافرون، وقل هو الله أحد}.

“Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam dua rakaat setelah maghrib membaca: (Qul yaa ayyuhal kaafiruun dan Qul huwallahu ahad).” (HR. Ibnu Majah No. 1166. Shahih, lihat Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 1166)

Qul yaa ayyuhal kaafiruun juga dianjurkan dibaca menjelang tidur. Dari Farwah bin Naufal Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي شَيْئًا أَقُولُهُ إِذَا أَوَيْتُ إِلَى فِرَاشِي قَالَ اقْرَأْ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ فَإِنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنْ الشِّرْكِ

“Bahwa dia mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan berkata: “Wahai Rasulullah, ajarkan kepadaku sesuatu yang aku ucapkan   jika aku berbaring di atas kasurku.” Beliau bersabda: “Bacalah Qul yaa ayyuhal kaafiruun, sesungguhnya itu merupakan pemutus dari kesyirikan.” (HR. At Tirmidzi No. 3403. Syaikh Al Albani menshahihkannya. Lihat Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 3403. Juga diriwayatkan oleh Ath Thabarani dalam Al Kabir No. 2150, dari Jabalah bin Haritsah)

Demikian keutamaan surat Al Kafirun, dan tak satu pun yang menyebutkan keutamaannya dibaca pagi dan sore secara rutin.

9.       Jika pagi membaca:

اللهم إني أصبحت منك في نعمة وعافية وستر ، فأتم علي نعمتك وعافيتك وسترك في الدنيا والآخرة ، ثلاث مرات 

“Allahumma Inni ashbahtu minka fi nimatin wa ‘aafiyatin wa sitrin, fa atimma ‘alayya ni’mataka wa ‘aafiyataka wa sitraka fid dun-ya wal akhirah.” (3X)

                                                                 *  *  *

Dzikir diatas berdasarkan riwayat berikut:

اللهم إني أصبحت منك في نعمة وعافية وستر ، فأتم علي نعمتك وعافيتك وسترك في الدنيا والآخرة ، ثلاث مرات إذا أصبح وإذا أمسى ، كان حقا على الله عز وجل أن يتم عليه نعمته

“Ya Allah sesungguhnya aku berpagi hari dariMu dalam kenikmatan, pertolongan, dan perlindungan. Maka sempurnakanlah bagiku nikmatMu, pertolonganMu, dan perlindunganMu, di dunia dan akhirat.” (3x ketika pagi dan sore, maka hak Allah ‘Azza wa Jalla  untuk menyempurnakan nikmatNya atasnya)

Hadits ini diriwayatkan oleh:

-          Imam Ibnu Sunni, ‘Amalul Yaum wal Lailah, No. 55. Telah berkata kepadaku ‘Ubaidilllah bin Syabib bin Abdul Malik, dari Yazid bin Sinan, telah berkata kepadaku ‘Amru bin Al Hushain, telah berkata kepadaku Ibrahim bin Abdul Malik, dari Qatadah, dari Said bin Abu Al Hasan, dari Ibnu Abbas, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: ..(lalu disebut hadits di atas) 

-          Imam Alauddin Al Muttaqi Al Hindi, Kanzul ‘Umal, No. 3602, katanya: diriwayatkan oleh Ibnu Sunni dari Ibnu Abbas.

Hadits ini  dhaif jiddan (sangat lemah), lantaran dalam sanadnya terdapat  dua rawi yang bermasalah, bahkan dianggap pendusta. Pertama,  Yazid bin Sinan. Dia adalah Yazid bin Sinan bin Yazid At Tamimi Al Jazari Abu Farwah Ar Rahawi. Segenap para imam hadits mendhaifkannya.

Imam Ahmad berkata tentangnya: dhaif (lemah). Imam Yahya bin Ma’in mengatakan: haditsnya bukan apa-apa. Imam Ali bin Al Madini mengatakan: dhaiful hadits (lemah haditsnya). Marwan bin Mu’awiyah menguatkannya. Sementara Imam Abu Hatim mengatakan: banyak lalai, haditsnya boleh ditulis tapi tidak bisa dijadikan hujah. Imam Bukhari mengatakan: anaknya meriwayatkan darinya hadits-hadits munkar. Imam Abu Daud mengatakan: dia dan anaknya bukan apa-apa. Imam An Nasa’i mengatakan: lemah lagi ditinggalkan haditsnya. Ad Daruquthni mengatakan: dhaif. Al Jauzujani mengatakan: lemah. Imam Abu Zur’ah mengatakan: laisa bi qawwi (tidak kuat). Imam Al Azdi mengatakan: munkarul hadits. Imam Al Hakim mengatakan: dia meriwayatkan dari Az Zuhri, dari Yahya bin Abi Katsir, dari Hisyam bin ‘Urwah, berupa hadits munkar yang banyak. Al ‘Uqaili mengatakan: haditsnya tidak bisa diikuti. (Al Hafizh Ibnu Hajar, Tahdzibut Tahdzib, 293/293. Darul Fikr. Lihat juga Adz Dzahabi, Mizanul I’tidal, 4/427. Darul Ma’rifah)

Kedua,  ‘Amru bin Al Hushain, dia juga seorang yang lemah. Imam Ad Daruquthni mengatakan: matruk (ditinggalkan). Imam Abu Zur’ah mengatakan: lemah. (Imam Ad Dzahabi, Mizanul I’tidal,  3/253). Al Hafizh menyebutnya pendusta. (Tahdzibut Tahdzib, 9/241)

10.   Membaca:

سبحان الله , والحمد لله , ولا إله إلا الله , والله أكبر

“Subhanallah wal hamdulillah wa laa Ilaha Illallah wallahu akbar.” (100 kali)

                                                                             * * *

Anjuran membaca tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir  sebanyak seratus kali setiap pagi dan sore, didasarkan  beberapa riwayat.

Pertama. Dalam Sunan At Tirmidzi, telah bercerita kepada kami Muhammad bin Wazir Al Wasithi, dari Abu Sufyan Al Himyari,  dari Adh Dhahak bin  Humrah, dari  Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ مِائَةً بِالْغَدَاةِ وَمِائَةً بِالْعَشِيِّ كَانَ كَمَنْ حَجَّ مِائَةَ مَرَّةٍ وَمَنْ حَمِدَ اللَّهَ مِائَةً بِالْغَدَاةِ وَمِائَةً بِالْعَشِيِّ كَانَ كَمَنْ حَمَلَ عَلَى مِائَةِ فَرَسٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ قَالَ غَزَا مِائَةَ غَزْوَةٍ وَمَنْ هَلَّلَ اللَّهَ مِائَةً بِالْغَدَاةِ وَمِائَةً بِالْعَشِيِّ كَانَ كَمَنْ أَعْتَقَ مِائَةَ رَقَبَةٍ مِنْ وَلَدِ إِسْمَعِيلَ وَمَنْ كَبَّرَ اللَّهَ مِائَةً بِالْغَدَاةِ وَمِائَةً بِالْعَشِيِّ لَمْ يَأْتِ فِي ذَلِكَ الْيَوْمِ أَحَدٌ بِأَكْثَرَ مِمَّا أَتَى بِهِ إِلَّا مَنْ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَى مَا قَالَ

Barangsiapa bertasbih (membaca ‘subhanallah’) kepada Allah seratus kali ketika pagi hari dan seratus kali ketika sore hari, maka ia seperti orang yang melakukan haji seratus kali. Barangsiapa bertahmid (membaca ‘al-hamdulillah’) kepada Allah seratus kali ketika pagi hari dan seratus kali ketika sore hari, maka ia seperti orang yang membawa seratus kuda perang untuk berjihad di jalan Allah, atau dia seperti orang yang berperang seratus kali perang. Barangsiapa mengucapkan tahlil (membaca 'la ilaha illallah') seratus kali ketika pagi hari dan seratus kali ketika sore hari, maka ia seperti memerdekakan seratus budak dari anak cucu Ismail. Barangsiapa mengucapkan takbir (ucapan 'Allahu Akbar') seratus kali di pagi hari dan seratus kali di sore hari, maka Allah tidak akan memberikan kepada  seseorang pun melebihi apa yang diberikan orang itu kepadanya, kecuali bagi orang  yang melakukan  ucapan yang sama atau lebih ."  (HR. At Tirmidzi No. 3471, katanya: hasan gharib)

Penghasanan Imam At Tirmidzi terhadap hadits ini telah dikoreksi para ulama setelahnya, karena kelemahan Adh Dhahak bin Humrah. Syaikh Abdurrahman bin Abdurrahim Al Mubarkafuri mengatakan:

أَيْ سَنَدُهُ الضَّحَّاكُ بْنُ حُمْرَةَ وَهُوَ ضَعِيفٌ

Yaitu sanadnya terdapat Adh Dhahak bin Humrah, dan dia seorang yang lemah.” (Tuhfah Al Ahwadzi, 9/441)

Imam An Nasa’i mengomentari Adh Dhahak bin Humrah: Laisa bi tsiqah (tidak bisa dipercaya). Imam Bukhari mengatakan: munkarul hadits, majhul (haditsnya munkar dan tidak dikenal). Yahya bin Ma’in mengatakan: Laisa bi syai’ (dia bukan apa-apa).  (Imam Adz Dzahabi, Mizanul I’tidal, 2/322-323)

Imam Adz Dzahabi mengoreksi penghasanan Imam At Tirmidzi dengan mengatakan:

وحسنه فلم يصنع شيئا

“Beliau menghasankannya, tetapi sama sekali tidak tepat.” (Ibid, 2/323)

Sedangkan Syaikh Al Albani menyatakan bahwa sanad hadits ini dhaif, dan matannya munkar. (Lihat As Silsilah Adh Dhaifah, No. 1315. Dhaiful Jami’ No. 5619)

Kedua. Ada juga riwayat seperti di atas dalam Musnad Ahmad, sebagai berikut

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ سُلَيْمَانَ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ خَلَفٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ بَهْدَلَةَ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أُمِّ هَانِئٍ بِنْتِ أَبِي طَالِبٍ، قَالَتْ  : مَرَّ بِي ذَاتَ يَوْمٍ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ: إِنِّي قَدْ كَبِرْتُ وَضَعُفْتُ، أَوْ كَمَا قَالَتْ، فَمُرْنِي بِعَمَلٍ أَعْمَلُهُ وَأَنَا جَالِسَةٌ، قَالَ: " سَبِّحِي اللهَ مِائَةَ تَسْبِيحَةٍ، فَإِنَّهَا تَعْدِلُ لَكِ مِائَةَ رَقَبَةٍ تُعْتِقِينَهَا مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيلَ، وَاحْمَدِي اللهَ مِائَةَ تَحْمِيدَةٍ، فإنها  تَعْدِلُ لَكِ مِائَةَ فَرَسٍ مُسْرَجَةٍ مُلْجَمَةٍ ، تَحْمِلِينَ عَلَيْهَا فِي سَبِيلِ اللهِ، وَكَبِّرِي اللهَ مِائَةَ تَكْبِيرَةٍ، فَإِنَّهَا تَعْدِلُ لَكِ مِائَةَ بَدَنَةٍ مُقَلَّدَةٍ مُتَقَبَّلَةٍ ، وَهَلِّلِي اللهَ مِائَةَ تَهْلِيلَةٍ، قَالَ ابْنُ خَلَفٍ: أَحْسِبُهُ قَالَ، تَمْلَأُ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ، وَلَا يُرْفَعُ يَوْمَئِذٍ لِأَحَدٍ مِثْلُ عَمَلِكَ  إِلَّا أَنْ يَأْتِيَ بِمِثْلِ مَا أَتَيْتِ بِهِ "

Telah bercerita kepada kami Sa’id bin Sulaiman, bercerita kepada kami Musa bin Khalaf, bercerita kepada kami ‘Ashim bin Bahdalah, dari Abu Shalih, dari Ummu Hani’ binti Abi Thalib, dia berkata: Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lewat di hadapan saya, lalu saya berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya sudah tua dan lemah,” atau perkataan seperti itu, “tunjukkanlah kepada saya amalan yang bisa saya lakukan sambil duduk.” Beliau bersabda: “Bertasbih kepada Allah seratus kali, itu setara bagimu dengan memerdekakan seratus budak dari anak-anak Ismail. Bertahmid kepada Allah seratus kali, itu setara bagimu dengan seratus kuda perang yang engkau bawa dalam perang fi sabilillah. Bertakbir kepada Allah seratus kali, setara bagimu dengan seratus unta yang terikat lagi jinak. Dan, bertahlil seratus kali,”  berkata Ibnu Khalaf: “Saya kira beliau berkata: “akan memenuhi antara langit dan bumi, dan saat itu tidak seorang pun yang serupa dengan amalmu, kecuali dia melakukan seperti apa yang kau lakukan.” (HR. Ahmad No. 26911,  An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 10680,  Ibnus Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah No. 844. Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah No. 1280, Abdurrazzaq dalam Al Mushannaf No. 20580. Ath Thabarani dalam Al Kabir No. 20445, juga dalam Al Awsath, No. 4235)

Imam Bukhari dalam At Tarikh Al Kabir, 2/254-255, dari Uqbah berkata: riwayat ini tidak ada yang shahih dari Ummu Hani’.

Sebaliknya, Imam Al Haitsami mengatakan: ”Asaaniduhum hasanah.” (sanad-sanad mereka hasan – bagus). (Lihat Majma’ Az Zawaid, 10/92)

Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: isnaduhu dhaif lidha’fi abi shaalih – isnadnya dhaif lantaran kedhaifan Abu Shalih, juga ‘Ashim bin Bahdalah, seorang yang diperselisihkan kelayakannya. (Tahqiq Musnad Ahmad No. 26911)

Syaikh Al Albani juga mendhaifkannya. (Lihat Dhaiful Jami’ No. 3234), tetapi beliau menghasanan dalam kitabnya yang lain. ( As Silsilah Ash Shahihah No. 1316, Shahih At Targhib wat Tarhib, No. 1553)

Abu Shalih adalah Baadzaam, dia dhaifkan oleh para ulama di antaranya Imam Bukhari dan Imam An Nasa’i, beliau mengatakan; Laisa bi tsiqah – tidak bisa dipercaya.

Zakariya bin Abi Zaidah mengatakan, bahwa Asy Sya’bi melewati Abu Shalih, lalu dia menjewer telinganya, lalu berkata: “Celaka kamu! Kamu menafsirkan Al Quran padahal kamu tidak hafal Al Quran!”

Ismail bin Abi Khalid berkata: “Dahulu Abu Shalih berbohong, maka tidaklah saya bertanya kepadanya melainkan dia merincinya untuk saya.”  Abdul Haq berkata dalam Al Ahkam: “dhaif jiddan – sangat lemah.” Tetapi kalimat ini diingkari oleh Abul Hasan bin Al Qaththan. (Lihat Mizanul I’tidal, 1/296)

Sebagian lain ada yang menganggapnya tidak apa-apa. Yahya bin Ma’in mengatakan: “Laisa bihi ba’san – dia tidak apa-apa.” Beliau juga mengatakan: “Jika dia meriwayatkan dari Al Kalbi, maka tidak apa-apa.”

Yahya Al Qaththan mengatakan; “Saya belum pernah lihat sahabat-sabahat kami meninggalkan hadits Abu Shalih, pelayan Ummu Hani’.” (Ibid)

Jika kita lihat, pihak yang mengkritik (jarh) lebih  banyak dan lebih rinci, dibanding pujiannya yang masih sangat umum. Maka sesuai kaidah: Jarh mufassar muqaddamaun ala ta’dilil ‘aam (Kritikan yang terperinci lebih diutamakan dibanding pujian yang masih umum). Maka, kedhaifannya lebih kuat.

Selain itu,tetang  ‘Ashim bin Bahdalah yaitu ‘Ashim bin Abi An Nujud, para ulama berselisih pendapat tentangnya. Imam Adz Dzahabi mengatakan: “Kuat dalam qiraah, tapi tidak kuat dalam hadits, dia jujur tapi bimbang.”

Imam Yahya Al Qaththan mengatakan: “Aku belum menjumpai seorang pun yang bernama ‘Ashim melainkan dia adalah orang yang buruk hapalannya.”

Imam An Nasa’i mengatakan: Laisa bihaafizh – bukan orang yang terjaga hapalannya.

Imam Ad Daruquthni mengatakan: Fi hizhi ‘Ashim syai’ – pada hapalannya terdapat masalah.

Imam Ibnu Khirasy mengatakan: pada haditsnya terdapat hal yang diingkari.

Imam Abu Hatim mengatakan: kedudukannya sebagai orang yang jujur. Imam Ahmad dan Imam Abu Zur’ah megatakan: tsiqah (bisa dipercaya). Begitu pula Imam Adz Dzahabi megatakan tsiqah. Sementara Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan darinya, tetapi hadits-hadits yang bersambung dengan tanpanya dan tidak memiliki asal, dan menyendiri. (Lihat semua dalam Mizanul I’tidal, 2/357)

Ketiga. Riwayat dalam Al Mu’jam Al Kabir-nya Imam Ath Thabarani, juga dari Ummu Hani’ dengan sanad yang berbeda.

حَدَّثَنَا مُعَاذُ بن الْمُثَنَّى، ثنا أَبُو مُصْعَبٍ الزُّبَيْرِيُّ،   وَحَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بن إِسْحَاقَ، ثنا مَخْلَدُ بن مَالِكٍ الْحَرَّانِيُّ، قَالا: ثنا عَطَّافُ بن خَالِدٍ، ثنا سَعِيدُ بن عَمْرِو بن جَعْدَةَ بن هُبَيْرَةَ، عَنْ أُمِّ هَانِئٍ بنتِ أَبِي طَالِبٍ، وَهِيَ جَدَّتُهُ قَالَتْ: دَخَلْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كُنْتُ أُصَلِّي صَلاةً ثَقُلْتُ عَنْهَا، فَدُلَّنِي عَلَى عَمِلٍ أَعْمَلُهُ يَأْجُرَنِي اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنَا قَاعِدَةٌ، قَالَ:يَا أُمَّ هَانِئٍ، إِذَا أَصْبَحْتِ سَبِّحِي اللَّهَ مِائَةً، وهَلِّلِيهِ مِائَةً، وَاحْمَدِيهِ مِائَةً وَكَبِّرِيهِ مِائَةً، فَإِنَّ مِائَةَ تَسْبِيحَةٍ كَمِائَةِ بَدَنَةٍ، وَمِائَةَ تَكْبِيرَةٍ كَمِائَةِ بَدَنَةٍ تُهْدِينَها، وَمِائَةَ تَهْلِيلَةٍ لا تُبْقِي ذَنْبًا قَبْلَهَا وَلا بَعْدَهَا

Telah bercerita kepada kami Mu’adz bin Al Mutsanna, bercerita kepada kami Mush’ab Az Zubair, bercerita kepada kami Al Husain bin Ishaq, bercerita kepada kami Makhlad bin Malik Al Harrani, mereka berdua berkata: bercerita kepada kami ‘Aththaf bin Khalid, bercerita kepada kami Sa’id bin ‘Amru bin Ja’dah bin Hubairah, dari Ummu Hani’ binti Abi Thalib, dia adalah neneknya, dia berkata: “Saya masuk menjumpai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu saya berkata: “Wahai Rasulullah, saya melakukan shalat dan saya berat melaksanakannya, tunjukkanlah kepada saya amalan yang jika saya lakukan Allah akan memberikan ganjaran kepada saya, dan saya melakukannya dengan duduk.” Beliau bersabda: “Wahai Ummu Hani, jika kau pada pagi hari bertasbihlah kepada Allah sebanyak seratus kali, bertahlil seratus kali, bertahmid seratus kali, dan bertakbir seratus kali. Sesungguhnya seratus kali tasbih setara dengan seratus Unta, seratus takbir setara dengan seratus Unta yang dikurbankan, dan seratus tahlil akan membuat tidak tersisanya dosa baik yang sebelum dan sesudahnya.” (HR. Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 20433)

Riwayat ini juga berasal dari Ummu Hani’, dan Uqbah mengatakan: “Riwayat ini tak satu pun yang shahih berasal dari Ummu Hani’.”  (Imam Al Bukhari, At Tarikh Al Kabir, 2/254-255)

Dalam sanadnya terdapat ‘Aththaf bin Khalid Al Makhzumi. Sebagian ulama memujinya. Imam Ahmad mengatakan: tsiqah. Imam Yahya bin Ma’in mengatakan: Laisa bihi ba’s- Dia tidak apa-apa.

Namun, kebanyakan mengkritiknya. Imam Abu Ahmad Al Hakim mengatakan: “Laisa bil matiin ‘indahum – menurut mereka (para ahli hadits) dia tidak kuat.” Imam  Malik melemahkannya. Imam Bukhari mengatakan: “Imam Malik tidak memujinya.” Imam Abu Hatim dan lainnya mengatakan: “Dia bukan orang yang layak.” (Lihat Mizanul I’tidal, 3/69)

Syaikh Syau’aib Al Arnauth mengatakan bahwa semua jalur Ummu Hani ini adalah dhaif- lemah. (Tahqiq Musnad Ahmad, 44/480)

Keempat.  Riwayat Ibnu Majah dalam Sunannya yang juga dari Ummu Hani’, sebagai berikut:

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ الْحِزَامِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو يَحْيَى زَكَرِيَّا بْنُ مَنْظُورٍ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عُقْبَةَ بْنِ أَبِي مَالِكٍ عَنْ أُمِّ هَانِئٍ قَالَتْ

أَتَيْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ فَإِنِّي قَدْ كَبِرْتُ وَضَعُفْتُ وَبَدُنْتُ فَقَالَ كَبِّرِي اللَّهَ مِائَةَ مَرَّةٍ وَاحْمَدِي اللَّهَ مِائَةَ مَرَّةٍ وَسَبِّحِي اللَّهَ مِائَةَ مَرَّةٍ خَيْرٌ مِنْ مِائَةِ فَرَسٍ مُلْجَمٍ مُسْرَجٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَخَيْرٌ مِنْ مِائَةِ بَدَنَةٍ وَخَيْرٌ مِنْ مِائَةِ رَقَبَةٍ

Bercerita kepada kami Ibrahim bin Al Mundzir Al Hizami, bercerita kepada kami Abu Yahya Zakariya bin Manzhur, bercerita kepada kami Muhammad bin ‘Uqbah bin Abi Malik, dari Ummu Hani’, dia berkata: Aku mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu saya berkata: Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku tentang sebuah amalan, sesungguhnya saya sudah tua, lemah, dan gemuk. Maka Beliau bersabda: “Bertakbirlah kepada Allah sebanyak seratus kali, bertahmid seratus kali, dan bertasbih seratus kali, itu lebih baik dbanding seratus kuda perang berpelana di jalan Allah, dan lebih baik disbanding seratus unta, dan lebih baik dibanding memerdekakan seratus budak.” (HR. Ibnu Majah No. 3810)

Imam Al Haitsami mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan. (Majma’ Az Zawaid, 10/92)

Syaikh Al Albani juga mengatakan hasan. (Shahih wa Dhaif Sunan Ibni Majah No. 3810)

Tentang para perawinya, Ibrahim bin Al Mundzir Al Hizami, umumnya para ulama memberinya pujian, kecuali Imam Ahmad yang mencelanya. Banyak para imam yang mengambil hadits darinya seperti Al Bukhari, An Nasa’i, Ibnu Majah, Abu Hatim, Abu Zur’ah, Ibnu Ma’in, Abu Bakar bin Abi Khaitsamah, dan lainnya.  An Nasa’i mengatakan: Laa ba’sa bihi – dia tidak apa-apa. Shalih bin Muhammad dan Abu Hatim mengatakan: shaduuq (jujur). Abu Hatim juga mengatakan: “Dia adalah yang paling tahu tentang hadits dari Ibrahim bin Hamzah, hanya saja pernah tercampur dengan Al Quran.” Ad Daruquthni mengatakan; tsiqah. Sedangkan Yahya bin Ma’in dan umumnya para huffazh meridhai dan mempercayainya.

As Saaji mengatakan: telah sampai kepadaku bahwa  Ahmad bin Hambal membincangkan dan mencelanya.   (Lihat semua dalam karya Al Hafizh Ibnu Hajar, Tahdzibut Tahdzib, 1/ 166-167)

Rawi selanjutnya yakni Abu Yahya Zakariya bin Manzhur, umumnya para imam mengkritiknya. Imam Adz Dzahabi mengatakan: “Dha’afahu Jama’ah – jamaah ahli hadits mendhaifkannya.” Yahya bin Ma’in mengatakan: Laisa bi tsiqah – bukan orang terpercaya. Beliau juga mengatakan: dhaif. Ad Daruquthni mengatakan: matruk – ditinggalkan. (Mizanul I’tidal, 2/74-75, 78).

Namun dalam kitab lain, Yahya bin Ma’in menyebutnya dengan: Laisa bi syai’ – dia bukan apa-apa. Beliau juga berkata: Laisa bihi ba’san – dia tidak apa-apa.  Ahmad bin Al Mishri juga mengatakan: dia tidak apa-apa.

Ahmad mengatakan bahwa dia seorang syaikh namun lemah (layyin).  Ibnu Al Madini dan An Nasa’i mengatakan dhaif. Amru bin Ali dan As Saaji mengatakan: padanya ada kelemahan (fiihi dha’iif). Abu Zur’ah mengatakan: haditsnya lemah dan munkar. Abu Hatim mengatakan: tidak kuat, haditsnya dhaif dan munkar, namun haditsnya boleh ditulis saja. Al Bukhari mengatakan: munkarul hadits. Ibnu Hibban mengatakan: munkarul hadits jiddan – haditsnya sangat munkar, dan dia meriwayatkan dari Abu Hazim riwayat yang tidak ada asalnya. Abu Ahmad Al Hakim mengatakan: Laisa bil qawwi ‘indahum - menurut mereka (para ulama) dia tidak kuat. Ad Daruquthni mengatakan: matruk (ditinggalkan). Abi Bisyr Ad Daulabi mengatakan: Laisa bi tsiqah – bukan  yang bisa dipercaya . (Tahdzibut Tahdzib, 3/332-333)

Selanjutnya adalah Muhammad bin ‘Uqbah bin Abi Malik Al Qurzhi.  Imam Ibnu Hibban memasukkannya dalam kitab Ats Tsiqaat (orang-orang terpercaya). (Tahdzibut Tahdzib, 9/346)

Demikianlah para perawinya, semuanya tsiqah kecuali Zakariya bin Manzhur, dia pun tidak sampai dituduh pendusta dan pemalsu hadits, bahkan kadangkala Yahya bin Ma’in –juga Ahmad bin Al Mishri- menyatakan; tidak apa-apa. Maka, tidaklah hadits ini dhaif, namun juga tidak sampai shahih. Oleh karenanya Syaikh Al Albani menyebutnya sebagai hadits  hasan. Wallahu A’lam

Kelima.  Ada sanad lain dengan lafaz yang agak berbeda:

أخبرنا محمد بن عبد الرحمن بن أشعث قال أخبرنا أبو مسهر قال حدثنا هقل بن زياد قال حدثني الاوزاعي عن عمرو بن شعيب عن أبيه عن جده قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من قال سبحان الله مائة مرة قبل طلوع الشمس وقبل غروبها كان أفضل من مائة بدنة ومن قال الحمد لله مائة مرة قبل طلوع الشمس وقبل غروبها كان أفضل من مائة فرس يحمل عليها ومن قال الله أكبر مائة مرة قبل طلوع الشمس وقبل غروبها كان أفضل من عتق مائة رقبة ومن قال لا إله إلا الله وحده لا شريك له له الملك وله الحمد وهو على كل شئ قدير مائة مرة قبل طلوع الشمس وقبل غروبها لم يجئ يوم القيامة أحد بعمل أفضل من عمله إلا من قال قوله أو زاد

Bercerita kepada kami Muhammad bin Abdurrahman bin Asy’ats, bercerita kepada kami Abu Mashar, bercerita kepada kami Hiql bin Ziyad, bercerita kepadaku Al Auza’i, dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dia berkata: bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Barang siapa yang mengucapkan Subhanallah (100 X) sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, itu lebih utama dibanding seratus unta. Barang siapa yang mengucapkan Alhamdulillah (100X) sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, itu lebih utama dibanding kuda perang yang dia bawa. Barang siapa yang mengucapkan Allahu Akbar  (100X) sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, itu lebih utama disbanding memerdekakan seratus budak. Barang siapa yang mengucapkan Laa ilaha illallahu wahdahu laa syarika lahu lahul mulku wa lahul hamdu  wa huwa ‘ala kulli syai’in  qadiir (100X) sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, maka tidak seorang pun yang mampu mendatangkan amal yang lebih utama darinya pada hari kiamat nanti kecuali orang yang mengucapkan seperti yang diucapkannya atau lebih.” (HR. An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 10657)

Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al Albani.(Lihat Shahih At Targhib wat Tarhib No. 658)

Dengan demikian, membaca tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir sebanyak seratus kali pada pagi dan petang, memiliki landasan dalam syariat, yakni berdasarkan beberapa riwayat yang maqbul (bisa diterima), yakni riwayat Ibnu Majah dalam As Sunannya No. 3810 dan An Nasa’i dalam As Sunan Al Kubra No. 10657, dengan sanad hasan.

Demikian beberapa contoh yang dhaif, dan sebagian diperselisihkan kedhaifannya. Wallahu A’lam

Wash Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhamamdin wa ‘ala Aalihi wa Shahbihhi wa Sallam

(sumber: ustadfarid.com)
Share this with short URL: